Selasa, 06 Desember 2011

Persilangan tanaman padi (Oriza sativa)


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karbohidrat merupakan salah satu zat yang sangat penting bagi tubuh dan sangat mutlak diperlukan setiap hari. Karbohidrat merupakan senyawa organik karbon, hydrogen, dan oksigen, yang terdiri atas satu molekul gula sederhana atau lebih yang merupakan bahan makanan penting sebagai sumber energy atau tenaga. Karbohidrat kita peroleh dari makanan pokok sehari-hari seperti padi, jagung, ketela pohon, kentang, sagu, gandum, ubi jalar dan lain-lain. Dari sekian banyak sumber karbohidrat,pada jaman sekarang ini, padi ternyata merupakan makanan berkarbohidrat yang ideal bagi kita. Itulah sebabnya padi menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia.Bagi bangsa kita padi identik dengan hidup,Sejak ratusan tahun yang lalu padi sudah dikenal di Indonesia. Nenek moyang kita sudah sejak lama membudidayakan tanaman pangan yang utama. Mengingat keadaan iklim, struktur tanah dan air setiap daerah berbeda maka jenis tanaman padi di setiap daerah umumnya berbeda. Perbedaan jenis padi pada umumnya terletak pada : Usia tanaman, jumlah hasil, mutu beras, dan ketahanannya terhadap hama dan penyakit. Petani tradisional umumnya menanam padi hanya berdasarkan pengalaman.Karena pengetahuan yang terbatas itulah satu jenis padi sering ditanam terus menerus dalam suatu lahan. Pola tanam demikian bukan cara yang baik, terutama terhadap kemungkinan besar serangan hama dan penyakit.
            Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar
            Ditinjau dari kegunaannya tanaman padi dapat dibedakan dalam 2 jenis, yaitu:
1. Padi beras; yaitu jenis tanaman padi yang hasilnya untuk dijadikan makanan pokok sehari-hari. Beras sebagai hasil akhir tanaman dijadikan sumber utama karbohidrat, dimasak menjadi nasi dan dimakan.
2. Padi ketan; yaitu jenis tanaman padi yang hasilnya untuk dijadikan makanan pokok sehari-hari. Beras ketan umumnya dibuat tepung sebagai bahan pembuat penganan atau makanan ringan. Dengan demikian padi ketan tidak dikonsumsi langsung sebagai
makanan pokok sebagaimana padi beras.


Padi dapat dikelompokan dalam 2 jenis, yaitu:
a. Padi sawah
Padi sawah ditanam disawah, yaitu lahan yang cukup memperoleh air. Padi sawah pada
waktu-waktu tertentu memerlukan genangan air, terutama sejak musim tanam sampai mulai berbuah.

b. Padi kering
Padi kering, yaitu sejenis padi yang tidak membutuhkan banyak air sebagaimana padi sawah. Bahkan padi kering ini dapat tumbuh hanya mengandalkan curah hujan. Ditinjau dari segi hasilnya, padi sawah jelas dapat menghasilkan lebih banyak dari pada padi kering. Padi kering ini pada umumnya ditanam di daerah-daerah yang kurang atau sedikit air.

Padi jenis ini masih dapat dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu:
1)   Padi Ladang
Padi ladang, yaitu sejenis padi kering yang ditanam di wilayah hutan yang baru dibuka. Hasilnya sangat rendah. Padi ladang umumnya ditanam olah petani tradisional di daerah pedalaman yang berhutan, seperti di Kalimantan. Umumnya mereka melakukannya secara berpindah-pindah (nomaden).Padi ladang mengandalkan air dan curah hujan. Biasanya petani menebang hutan, membakarnya, kemudian pada musim hujan menanaminya. Jika tanah sudah tidak subur lagi mereka membuka hutan yang lain dengan cara yang sama.Hal ini tentu tidak baik untuk kelestarian hutan.

(2) Padi Gogoh Rancah
Padi gogoh rancah, yaitu sejenis padi kering yang ditanam di tegalan pada saat musim hujan. Padi digenangi air seperti di sawah. Padi gogoh rancah sangat bergantung pada curah hujan. Jika musim kemarau panjang sudah dipastikan pertanian pada padi gogoh rancah tidak dapat berlangsung.

(3) Padi Tegalan
Padi tegalan disebut juga padi gogo yang tumbuh ditanah kering.Dan jika pertumbuhannya digenangi air seperti padi sawah disebut gogoh rancah.

Upaya peningkatan produksi pertanian padi terus dilakukan, antara lain dengan menyilangkan padi dan mendapatkan jenis bibit padi baru varietas unggul.Varietas unggul dari hasil persilangan diharapkan memiliki ciri-ciri seperti; pendek,hasilnya banyak,tahan terhadap hama dan penyakit. Sifat-sifat itulah yang diharapkan dari padi jenis unggul. Selain sifat-sifat diatas padi varietas unggul diharapkan menghasilkan beras berkualitas tinggi, rasanya enak, serta tidak mudah roboh.Dalam upaya meningkatkan produksi padi, Balai Penelitian Padi Bogor juga menyebarkan bibit-bibit baru yang lebih berkualitas yang kita kenal dengan istilah VUTW, singkatan dari Varrietas Unggul Tahan Wereng.




































TINJAUAN PUSTAKA


 Botani Tanaman

 Berdasarkan literatur Grist (1960), tanaman padi dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke dalam Divisio Spermatophyta, dengan Sub divisio Angiospermae, termasuk ke dalam kelas Monocotyledoneae, Ordo adalah Poales, Famili adalah Graminae, Genus adalah Oryza Linn, dan Speciesnya adalah Oryza sativa L.
Tumbuhan padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Tanaman padi membentuk rumpun dengan anakannya, biasanya anakan akan tumbuh pada dasar batang. Pembentukan anakan terjadi secara tersusun yaitu pada batang pokok atau batang batang utama akan tumbuh anakan pertama, anakan kedua tumbuh pada batang bawah anakan pertama, anakan ketiga tumbuh pada buku pertama pada batang anakan kedua dan seterusnya. Semua anakan memiliki bentuk yang serupa dan membentuk perakaran sendiri (Luh, 1991).
Batang padi tersusun dari rangkaian ruas–ruas dan diantara ruas yang satu dengan ruas yang lainnya dipisahkan oleh satu buku. Ruas batang padi didalamnya berongga dan bentuknya bulat, dari atas ke bawah ruas buku itu semakin pendek. Ruas yang terpendek terdapat dibagian bawah dari batang dan ruas–ruas ini praktis tidak dapat dibedakan sebagai ruas–ruas yang berdiri sendiri. Sumbu utama dari batang dibedakan dari bagian pertumbuhan embrio yang disertai pada coleopotil pertama (Grist, 1960).
Pada buku bagian bawah dari ruas tanaman padi tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg terpanjang dan terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut daun bendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir pada.
Bunga padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu (Departemen Pertanian, 1983).
Pada dasar bunga terdapat ladicula (daun bunga yang telah berubah bentuknya). Ladicula berfungsi mengatur dalam pembuahan palea, pada waktu berbunga ia menghisap air dari bakal buah, sehingga mengembang. Pengembangan ini mendorong lemma dan palea terpisah dan terbuka (Hasyim, 2000).
Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau bulir/gabah, sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini terjadi setelah selesai penyerbukan dan pembuahan. Lemma dan palea serta bagian lain akan membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen Pertanian, 1983).

Dinding bakal buah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian paling luar disebutepicarpium, bagian yang tengah disebut mesocarpium dan bagian yang dalam disebut endocarpium. Biji sebagian besar ditempati oleh endosperm yang mengandung zat tepung dan sebagian ditempati oleh embrio (lembaga) yang terletak dibagian sentral yakni dibagian lemma (Departemen Pertanian, 1983).
Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang menguning sudah mencapai sekitar 80 % dan tangkainya sudah menunduk. Tangkai padi merunduk karena sarat dengan butir gabah bernas. Untuk lebih memastikan padi sudah siap panen adalah dengan cara menekan butir gabah. Bila butirannya sudah keras berisi maka saat itu paling tepat untuk dipanen (Andoko, 2002). 
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman padi tumbuh di daerah tropis / subtropis pada 45O LU sampai dengan 45O LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan empat bulan. rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun (http://www.ristek.go.id, 2008).
Tanaman padi dapat hidup baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 – 2000 mm (http://warintek.Ban tul.go.id,2008).
Temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu proses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi akibat tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang juga rendah pada waktu bunting dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari (Luh, 1991).




Tanah
Tanah yang baik untuk pertumbuhan padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jumlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya 18 – 22 cm dengan pH 4,0 – 7,0 (http://warintek.bantul.go.id,2008).
Tidak semua jenis tanah cocok untuk areal persawahan. Hal ini dikarenakan tidak semua jenis tanah dapat dijadikan lahan tergenang air. Padahal dalam sistem tanah sawah, lahan harus tetap tergenang air agar kebutuhan air tanaman padi tercukupi sepanjang musim tanam. Oleh karena itu, jenis tanah yang sulit menahan air (tanah dengan kandungan pasir tinggi) kurang cocok dijadikan lahan persawahan. Sebaliknya, tanah yang sulit dilewati air (tanah dengan kandungan lempung tinggi) cocok dijadikan lahan persawahan. Kondisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu posisi topografi yang berkaitan dengan kondisi hidrologi, porisitas tanah yang rendah dan tingkat keasaman tanah yang netral, sumber air alam, serta kanopinas modifikasi sistem alam oleh kegiatan manusia (Suprayono dan Setyono, 1997).
Padi sawah menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18 - 22 cm. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral. Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus (http://www.ristek.go.id, 2008).

Persilangan padi
Persilangan tanaman padi dapat berlangsung secara alami dan buatan (Soedyanto et al. 1978). Persilangan padi secara alami berlangsung dengan bantuan angin. Adanya varietas padi lokal di berbagai daerah menunjukkan telah terjadi persilangan secara alami. Contoh varietas padi lokal yang banyak ditanam petani adalah Rojolele, Mentik, Cempo, Pandan Wangi, Markoti, Hawarabunar, Lemo, Kuwatik, dan Siam.
Persilangan padi secara buatan dilakukan dengan campur tangan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan membuat kombinasi persilangan untuk menghasilkan tanaman yang sesuai dengan keinginan. Varietas padi unggul hasil persilangan dikelompokkan berdasarkan tipologi lahan budi dayanya, yaitu padi sawah, padi gogo, dan padi rawa. Persilangan padi secara buatan pada umumnya menghasilkan tanaman yang relatif pendek, berumur genjah, anakan produktif banyak, dan hasil tinggi. Sementara itu persilangan secara alami menghasilkan tanaman yang relatif tinggi, berumur panjang, anakan produktif sedikit, dan produktivitas rendah. Untuk menghasilkan varietas padi baru melalui persilangan diperlukan waktu 5-10 tahun.
Menurut Harahap (1982), terdapat beberapa metode persilangan buatan yang dapat dilakukan untuk mendapatkan varietas unggul padi, yaitu silang tunggal atau single cross (SC), silang puncak atau top cross (TC), silang ganda atau double cross (DC), silang balik atau back cross (BC), dan akhir-akhir ini dikembangkan pula metode persilangan multi cross (MC). Silang tunggal hanya melibatkan dua tetua saja. Silang puncak merupakan persilangan antara F1 dari silang tunggal dengan tetua lain. Silang ganda merupakan persilangan antara F1 dengan F1 hasil dari dua persilangan tunggal. Silang balik adalah persilangan F1 dengan salah satu tetuanya. Silang banyak merupakan persilangan yang melibatkan lebih dari empat tetua. Tanda persilangan antara tetua menggunakan garis miring (/). Dua garis miring menunjukan persilangan antara suatu hibrida dengan suatu varietas, contoh: A/B = SC, A/B//C = TC, A/B//C/D = DC (Harahap1982).

Tujuan
            Praktikum ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui teknik(tahap-tahap) penyilangan tanaman padi.





















BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
            Praktikum Pengantar Pemuliaan Tanaman dengan topik persilangan padi dilaksanakan pada hari selasa, november 2011 di Rumah Kaca, Fakultas Pertanian ,Universitas Andalas, Padang.

Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang dipakai didalam praktikum persilangan padi ini adalah:
Alat; pinset,gunting,kuas,kertas sungkup
Bahan; Padi,alkohol

Cara Kerja
            Langkah ataupun tahap-tahap pengerjaan yang dilakukan didalam persilangan padi ini adalah sebagai berikut:
1.      Pemilihan calon tetua yang akan dijadikan tetua jantan dan tetua betina
2.      Kastrasi atau Emaskulasi
Kastrasi atau emaskulasi adalah membuang bagian tanaman yang tidak diperlukan. Kegiatan ini biasa disebut dengan pengebirian. Kastrasi dilakukan sehari sebelum penyerbukan agar putik menjadi masak sempurna saat penyerbukan sehingga keberhasilan penyilangan lebih tinggi. Setiap bunga (spikelet) terdapat enam benang sari. Dua kepala putik yang menyerupai rambut tidak boleh rusak (UPLB 1967). Oleh karena itu perlu hati-hati dalam melakukan kastrasi. Bunga pada malai yang akan dikastrasi dijarangkan hingga tinggal 15-50 bunga (Harahap 1982). Sepertiga bagian bunga dipotong miring menggunakan gunting kemudian benang sari diambil dengan alat penyedot vacuum pump maupun dengan pinset.Bunga yang telah bersih dari benang sari ditutup dengan glacine bag(kertas sungkup) agar tidak terserbuki oleh tepung sari yang tidak dikehendaki.Waktu yang baik untuk melakukan kastrasi adalah setelah pukul 3.00 sore. Stadia bunga yang baik untuk dikastrasi adalah pada saat ujung benang sari berada pada pertengahan bunga (Harahap 1982). Pada stadia demikian,benang sari akan mekar dalam 1-2 hari.
3.      Penyerbukan
Untuk proses penyerbukkan sebaiknya dilakukan satu hari setelah proses kastrasi.Setelah kepala sari membuka, segera dilakukan penyerbukan. Bunga betina yang sudah dikastrasi dibuka tutupnya kemudian bunga jantan diletakkan di atasnya. Dengan bantuan jari tangan, bunga digoyang-goyang hingga tepung sari jatuh dan menempel pada kepala putik.Bak plastik tempat menyimpan bunga disusun sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengambilan bunga saat penyerbukan. Penyerbukan dapat dilakukan pada pukul  10.00-13.00 (Harahap 1982).
4.      Isolasi dan Pemeliharaan
Bunga yang sudah diserbuki segera ditutup dengan kantong kertas transparan atau glacine bag (Soedyanto et al. 1978).Pada malai dipasang etiket (label data) yang mencantumkan tanggal silang, nama tetua, jumlah malai yang disilangkan, dan dapat juga dicantumkan nama yang menyilangkan (Harahap 1982).Penulisan identitas sangat penting untuk legitimasi genotype baru yang dihasilkan.Tanaman hasil penyerbukan dipelihara di rumah kaca sampai biji hasil persilangan masak. Setelah 3-4 minggu,malai dipanen kemudian dikeringkan dengan cara dijemur   atau dioven (Sadjad 1993). Biji yang sudah kering dirontok kemudian dimasukkan ke dalam kantong kertas dan dicatat dalam buku persilangan.Benih F1 hasil persilangan dapat ditanam sebagai bahan seleksi pada tahap pemuliaan selanjutnya. Dari benih F1 hingga menjadi varietas unggul diperlukan banyak tahapan kegiatan dan waktu antara 5-10 tahun.






















PENUTUP

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan,yaitu persilangan pada tanaman padi dapat diambil kesimpulan bahwasanya ada beberapa factor yang mempengaruhi hasil dari persilangan,diantaranya : suhu, waktu pengerjaan (baik sewaktu kastrasi dan emaskulasi serta proses pemberiaan polen ke bunga betina),pemilihan tetua dan ketelitian pengerjaan.

Saran
Adapun saran yang dapat praktikan berikan yaitu dimana pada saat pengerjaan/pelaksanaan praktikum setiap tahap pengerjaan harus lah dilakukan dengan teliti,agar hasil yang diperoleh nantinya sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya(sesuai dengan hipotesis awal) dan pada saat Dosen memberikan penjelasan sebaiknya semua praktikan dapat mendengarkan dengan baik,agar tak ada kesalahan yang didapat.






















DAFTAR PUSTAKA

Hasyim 2000 Soedyanto et al. 1978. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Institute Petanian Bogor. Bandung
 Luh,1991 Botani Departemen pertanian. Jakarta

Heterosis dan seleksi massa


BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Statistik merupakan cabang matematika terapan yang berhubungan pengumpulan, penyajian, analisis, dan interpretasi data.Dalam pekerjaannya seorang pemulia tanaman menghadapi setumpuk data yang diperoleh dari berbagai populasi tanaman.Dengan demikian pengetahuan dasar mengenai statistik merupakan prasyarat yang mestilah dimiliki oleh seorang pemulia tanaman adalah metode statistik dan rancangan percobaan.Dalam penerapannya, berbagai prosedur statistik yang digunakan tersebut tergantung pada tujuan dan informasi genetik yang diinginkan sebagaimana yang telah dibahas dalam perkuliahan.
Metode pemuliaan tanaman yang tepat diterapkan pada suatu jenistanaman bergantung pada sistem reproduksinya.Oleh karena itu metodepemuliaan tanaman dapat dipisahkan menjadi metode pemuliaan tanamanmenyerbuk sendiri dan metode pemuliaan tanaman menyerbuk silang.Salahsatu metode pemuliaan tanaman yang banyak digunkan adalah metode seleksi.
Keragaman dalam populasi dapat terjadi secara alami dan buatan. Hal ini akan menimbulkan ciri populasi tertentu, sebagai akibat dari komposisigenotipe-genotipepenyusunnya, banyaknya bentuk genotipe danfrekuensinya, serta nilai dari masing-masing genotipe. Banyak bentukgenotipe yang dihasilkan dipengaruhi oleh status genotipe individu-individu.Anggota populasi semula dan mekanisme yang terjadi akibat caraperkembangbiakan seksual.
Seleksi bekerja berdasarkan penilaian karakteristik tanaman yangdapat dilihat berdasarkan kenampakan fenotipenya.Nilai seleksi sangatdipengaruhi oleh pengetahuan mengenai hubungan genotipe dan fenotipe, atauhubungan gen dengan faktor lingkungan yang bekerja bersama danberpengaruh pada penampilan yang nampak dari suatu sifat.
Beberapa prosedur statistik yang akan dipelajari dalam praktikum adalah nilai tengah dan ukuran penyebaran data seperti kisaran, ragam, standar deviasi dan koefisien variasi dari suatu sampel tanaman.
Heterosis& Inbreeding
Inbreeding merupakan perkawinan antara individu-individu berkerabat dekat.Akibat dari inbreeding adalah dihasilkannya individu-individu yang mengalami penurunan ketegaran dan vigor sebagai akibat menurunnya heterozigositas.penurunan inilah yang dikenal dengan tekanan silang dalam sebagai akibat dari terkumpulnya gen-gen resesif yang tidak diinginkan pada F2.Kebalikan dari semua itu, heterosis merupakan hasil dari perkawinan dua tetua yang tidak berkerabat dekat.Heterosis mengacu pada peningkatan dalam hal ketegaran dan vigor dibandingkan dengan nilai kedua tetuanya sebagai akibat dari meningkatnya heterozigositas. Adapun kehadiran gen-gen resesif yang tidak diinginkan pada satu tetua tertutupi oleh gen-gen dominan yang terdapat pada tetua yang lain.
Heterosis dan inbreeding depression (tekanan silang dalam) adalah dua hal yang saling bertolak belakang tetapi pada dasarnya berkaitan erat.Heterosis merupakan keunggulan hibrida pada satu atau lebih karakter dibandingkan dengan kedua tetuanya.Efek heterosis yang muncul pada hibrida hasil persilangan dari dua tetua ini merupakan tujuan dari dilakukannya inbreeding.Sedangkan inbreeding sendiri memiliki konsekuensi tertentu yaitu terjadinya tekanan silang dalam.
Seleksi masa
Seleksi massa merupakan metode seleksi yang paling sederhana dan mudah dilaksanakan. Pada umumnya petani sudah melaksanakan seleksi ini waktu memilih tanaman-tanaman yang benihnya akan digunakan untuk musim berikutnya. Prosedur seleksinya adalah memilih individu-individu tanaman yang sesuai dengan kriteria seleksi yang diinginkan. Pada waktu panen, benih dari masing-masing tanaman dalam jumlah yang sama digabungkan (campur) untuk dipakai sebagai bahan tanam untuk pertanaman pada musim berikutnya.
Pada tanaman jagung, seleksi massa merupakan seleksi atau pemilihan secara individu yang didasarkan pada fenotipe tanaman hasil random mating. Pemilihan dilakukan secara visual pada tanaman yang digunakan sebagai betina (tanaman penghasil tongkol) karena tanaman jantan yang menyerbuki tidak diketahui asalnya.Tidak ada pengontrolan penyerbukan karena diasumsikan bahwa tetua betina terpilih melakukan persilangan secara acak dengan gamet jantan dari keseluruhan populasi.
Pada seleksi massa possitif hanya dipilih individu-individu tanaman sesuai dengan tujuan pemuliaan tanaman. Yang tidak terpilih dibuang dari populasi atau dipanen untuk keperluan konsumsi. Pada seleksi massanegatif, tanaman yang menyimpang dari sifat-sifat yang dikehendaki dari suatu populasi disingkirkan. Sedangkan tanaman yang tersisa dipanen bersama dan dicampur untuk digunakan sebagai bahan tanaman musim berikutnya. Seleksi massanegatif banyak dilakukan untuk memurnikan varietas unggul ataupun lokal yang telah beredar di masyarakat atau dalam rangka memproduksi benih untuk menjamin kemurnian genetiknya.
Kelebihan dari metode seleksi massa adalah metode ini sederhana, tidak mahal menekan inbreeding pada tingkat yang rendah dan bias dilakukan pada populasi yang besar. Metode ini relative cepat untuk perbaikan karakter yang diinginkan.Pada karakter yang memiliki heritabilitas yang tinggi, perbaikan karakter dapat dicapai dalam satu siklus. Kelemahannya adalah tidak adanya control terhadap gen-gen jelek yang berasal dari gamet jantan (pollen). Seleksi massa juga efektif untuk perbaikan karakter-karakter yang memiliki heritabilitas yang rendah seperti karakter hasil pada jagung.
Seleksi massa akan cepat memberikan hasil jika gen yang terlibat dalam pengontrolan karakter yang diinginkan bersifat aditif. Karakter yang diperbaiki memiliki heritabilitas yang tinggi, sedangkan karakter yang ingin dibuang bersifat resesif.Korelasi antar karakter yang dipertahankan serta karakter yang ingin diperbaiki juga penting.Karakter-karakter tersebut mesti memiliki korelasi positif.
2.1  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
-          Melakukan seleksi masa pada tanaman jagung denga galur yang berbeda setiap populasinya.
-          Mengidentifikasi fenomena heterosis pada tanaman jagung dengan beberapa varietas yang berbeda.
-          Melakukan perhitungan dan pengolahan data terhadap data-data yang diperoleh dengan mengidentifikasi melalui seleksi masa dan pengamatan heterosis



BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Sebelum menetapkan metode seleksi yang akan digunakan dan kapanseleksi akan dimulai perlu diketahui berapa besar variabilitas genetik, karenavariabilitas genetik sangat mempengaruhi keberhasilan sutau proses seleksidalam program pemuliaan tanaman. Selain melihat variabilitas genetik perlujuga diketahui nilai heritabilitas karena heritabilitas merupakan parametergenetik yang memilih sistem seleksi yang efektif (Pinaria et al., 1995).
Bila mana seleksi telah dilakukan terhadap suatu populasi tanaman, di harapkan tanaman yang terpilih akan memberikan hasil yang lebih baik. Besar kenaikkan hasil yang akan diperoleh dapat diperkirakan dengan menghitung kemajuan genetikannya secara teoritis (genetic advance). Kemajuan genetik secara praktek diartikan sebagai kemajuan seleksi yang dilakukan. Untuk dapat memperkirakan, diperlukan pengertian dan pengenalan secara baik terhadap populasi beserta keragamannya dan pengetahuan mengenai besarnya angka heritabilitas. (Mangoendidjojo, 2003).
Adanya keragaman genetik, yang berarti tingkat perbandingan nilaiantara individu genotipe dalam populasi merupakan syarat keberhasilan seleksiterhadap sifat yang diinginkan. Keberhasilan program pemuliaan tanamansangat tergantung pada keragaman genetik dari karakter yang dapat diwariskandan kemampuan memilih genotipe-genotipe unggul dalam proses seleksi(Rosmini, 1998).
Nilai duga heritabilitas juga sangat penting artinya dalammenentukan efektivitas metode seleksi. Seleksi akan efektif bila nilai dugaheritabilitas dan kemajuan genetik harapan tinggi (Johnson et al., 1995). Untukmemperkecil kekeliruan seleksi berdasarkan fenotipe tanaman perlumemperhatikan: (1) korelasi genotipe dan fenotipe antar sifat, (2) lingkunganyang cocok untuk seleksi sifat yang diinginkan, (3) ciri genetik sifat yangdiseleksi, (4) cara seleksi (langsung atau tidak langsung) dan keragamangenetic (Vela dan Frey, 1972).
Pelaksanaan seleksi massa secara visual yaitu dengan memilihfenotipe yang baik dalam memberikan hasil memuaskan tanpa berpedomanpada nilai parameter genetik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameteryang mempunyai heritabilitas tinggi dan variasi genetik tinggi pada umumnyaakan mempunyai kegunaan tinggi untuk masing-masing karakter tertentu(Anonim, 1998). Pada seleksi massa variabilitas genetik dan heritabilitasmerupakan parameter genetik dalam program seleksi yang sangat menetunkankeberhasilan program pemuliaan. Dalam program seleksi untuk memperbesarpeluang mendapatkan genotipe unggul perlu diuji galur sebanyak mungkin(Pinaria et al,. 1995).
Seleksi ear to row merupakan modifikasi dari seleksi massa. Padaseleksi massa tanaman yang terpilih (tongkol) langsung dicampur dandigunakan untuk pertanaman seleksi musim berikutnya. Padahal tongkolterpilih tersebut merupakan hasil persilangan secara acak sehingga sulit didugasusunan genotipenya.Untuk memperbaiki kelemahan ini tongkol – tongkoltersebut diuji terlebih dahulu sebelum diuji.Cara pengujian tersebut disebutpengujian keturunan (progeny test). Perbedaan seleksi ear to row denganseleksi saudara tiri dan saudara kandung adalah material seleksi yangdigunakan. Pada seleksi saudara tiri, material yang digunakan adalah tongkol– tongkol jagung satu ayah sedangkan pada seleksi saudara kandung dilakukanpersilangan secara sepasang –sepasang sehingga diperoleh material seleksiberupa tongkol – tongkol satu ayah dan satu ibu (Borojevic, 1990).
Setiap genotype tanaman memiliki kemampuan berkompetisi dengan tanaman lain yang berbeda-beda genotype yang mampu mengatasi kompetisi ditunjang antara lain oleh penampilan karakter-karakternya yang unggul atau kecilnya penyimpangan keunggulan karakter-karakternya yang unggul (Meddy et al., 1996)

BAB III. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
            Bedasarkan jadwal praktikum yang telah ditentukan bahwasanya praktikum ini  dilaksanakan di UPT Pertanian (lahan basah)  pada hari Sabtu 1 Oktober pukul 08.00 WIB s/d selesai dan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian pada hari Selasa 4 Oktober pukul 13.50 WIB s/d selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: penggaris, kalkulator, buku, pulpen dan jagung sebagai objek praktikum. Karena lebih kepada pencarian data, dalam praktikum ini tidak digunakan peralatan lapangan seperti cangkul, dll.
3.3 Cara Kerja
             Pada saat pelaksanaan praktikum di UPT atau di lahan ‘basah’ Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, pertama-tama jagung dihitung banyak biji mendatar dari atas ke bawah, dan banyak lingkaran biji tersebut. Jagung yang memiliki kualitas rendah dipisahkan dengan jagung yang memiliki kualitas tinggi.Setelah itu data hasil pengamatannya dicatat di buku atau kertas masing-masing.Sewaktu di laboratorium dan di rumah kawat, praktikan disuruh mengolah data hasil yang telah didapatkan dengan dimasukkannya data tersebut pada rumus statistika yang telah tersedia.

BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
1)      Seleksi masa
No sampel
Tinggi tanaman
Tinggi tongkol
Panjang tongkol
Jumlah biji per baris
Jumlah baris
1
230
85
21,5
42
12
2
200
87
15,3
38
14
3
213
86
19,5
36
12
4
233
117
15,3
36
14
5
150
95
15,5
34
12
2)      Heterosis
Sample
Tinggi Tanaman (cm)
Jumlah Daun
BOO
Cml2
F1
Boo
Cml2
F1
1.
124
128
168
10
11
11
2.
123
123
188
11
9
12
3.
120
116
182
11
9
12
Rata-rata
122,3
122
179,3
10,67
9,67
11,67

4.2 Pembahasan
Menurut  Mangoendidjojo(2003) Jika pemuliaan tanaman jagung bertujuan untuk meningkatkan produksi, seleksi dapat dilakukan berdasarkan berat biji per tongkol.
Seleksi adalah hal yang penting untuk membentuk suatu populasiyang memiliki fenotipe yang baik berdasarkan genotipe dan pengaruhlingkungan yang baik pula.Metode seleksi yang digunakan sangat bergantungpada jenis tanaman serta tujuan seleksi.Pada praktikum ini, tanaman yangdigunakan adalah tanaman jagung, yang merupakan contoh tanamanmenyerbuk silang.Sedangkan tujuan dari seleksinya ialah mendapatkanpopulasi tanaman yang memiliki ukuran tongkol berfenotipe baik. Metode pemuliaan tanaman yang digunakan adalah metode seleksi massa dan seleksi ear to row.
Hasil seleksi massa banyak memberikan keuntungan seperti,memiliki daya adaptasi luas karena lebih dapat menyesuaikan diri terhadaplingkungan yang beragam, memberikan kestabilan yang cukup stabil padakondisi lingkungan yang beragam, lebih tahan terhadap kerusakan secaramenyeluruh terhadap serangan suatu penyakit, namun memiliki kelemahankarena tidak diketahui secara pasti tetuanya. Sedangkan seleksi ear to rowmemiliki keuntungan untuk dapat menduga susunan genotipenya karenadiketahui tetuanya, dan memilki kelemahan dalam hal adaptasi terhadaplingkungan karena sangat dipengaruhi oleh penurunan sifat tetuanya terhadaplingkungan sehingga dalam pertanamannya perlu diperhatikan kondisi fisiklingkungannya untuk mendapatkan suatu populasi yang seragam.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Seleksi dilakukan terhadap suatu populasi tanaman, dengan harapan tanaman yang dipilih akan memberikan hasil yang lebih baik daripada populasi sebelumnya. Besarnya kenaikan hasil yang akan diperoleh dapat diperkirakan dengan menghitung kemajuan genetiknya secara teoritis.
5.2. Saran
            Dari praktikum yang telah dilakukan saya menyarankan agar praktikan selanjutnya lebih aktif dan antusias dalam menjalani praktikum yang didasari dengan rasa keingintahuan bukan untuk nilai semata.
            Dalam perhitungan yang dilakukan dalam dasar statistik ini praktikan juga harus teliti dan analitis dalam memberi pandangan terhadap hasil dan cara menyimpulkan apa saja yang telah di peroleh selama praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Pinaria et al., 1995.  Pengantar Pemuliaan Tanaman. Institute Petanian Bogor. Bandung
Mangoendidjojo, 2003. Seleksi statistik dalam pemuliaan tanaman. Universitas Indonesia.
            Jakarta.
Rosmini, 1998. Morfologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Vela dan Frey, 1972. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Pinaria et al,. 1995. Seleksi Masa dan heritabilitas genetic. Gadjah Mada University Press.
            Yogyakarta.
Borojevic, 1990. seleksi ear to row denganseleksi saudara tiri dan saudara kandung.
            University Of Indonesia. Jakarta.
Meddy et al., 1996. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Universitas Sriwijaya. Palembang.