Selasa, 06 Desember 2011

morfologi tanaman buah naga


BAB I. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Pembungaan merupakan pertanda bahwa suatu tanaman sedang berada dalam kondisi generatif. Dalam botani bunga merupakan salah satu cara pengelompokan tanaman dalam taxonomi. Tanaman yang sedang berbunga memiliki aktivitas metabolisme yang berbeda dengan tanaman yang berada dalam fase vegetatifnya. Fase generatif tanaman tersebut lebih memfokuskan penggunaan karbohidrat dan senyawa-senyawa lain bagi pembentukan biji.Kemampuan setiap jenis tanaman untuk melakukan pembungaan berbeda baik dalam waktu pembungaan maupun waktu masaknya benang sari dan kepala putik.
Perkawinan antar spesies merupakan salah satu cara yang digunakan dalam meningkatkan keragaman genetik bahan pemuliaan. Keragaman tersebut nantinya akan diseleksi untuk mendapatkan varietas yang memiliki sifat unggul. Varietas bersifat unggul tersebut yang nantinya dapat dilepas sebagai varietas unggul.
Proses penyerbukan ditandai dengan menempelnya serbuk sari ke kepala putik. Setiap jenis tanaman memiliki cara-cara tersendiri dalam proses tersebut secara alami. Penyerbukan tanaman oleh manusia baik untuk memperoleh varietas baru maupun untuk mendapatkan produk dari tanaman tersebut harus memperhatikan proses penyerbukan tanaman secara alami itu sendiri.
1.2    Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Mempelajari proses penyerbukan dari berbagai spesies bunga
2.      Mengetahui morfologi bunga dari berbagai spesies tanaman
3.      Mempelajari berbagai tipe bunga.
4.      Melihat perbedaan tanaman yang menyerbuk sendiri dan menyerbuk silang.


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi Tanaman Buah Naga
Buah naga merupakan kelompok tanaman kaktus atau famili Cactaceae (subfamili Hylocereanea). Buah ini termasuk genus Hylocereus yang terdiri dari beberapa spesies, di antaranya adalah buah naga yang biasa dibudidayakan dan bernilai komersial tinggi.
Beberapa  manfaat buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun, mengingat asalnya dari jenis buah kaktus,  buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan.
Klasifikasi buah naga adalah sebagai berikut :
Divisi            : Spermatophyta(tumbuhanberbiji)
Subdivisi      : Agiospermae (berbiji tertutup)
Kelas            : Dicotyledonae (berkeping dua)
Ordo             : Cactales
Famili           : Cactaceae
Subfamily    : Hylocereanea
Genus           : Hylocereus
Ada beberapa spesies dari buah naga, yaitu :
- Hylocereus undatus (daging putih)
- Hylocereus polyrhizus (daging merah)
- Hylocereus costaricensis (daging super merah atau super red)
- Selenicereus megalanthus (kulit kuning, daging putih, tanpa sisik)
Di antara keempat jenis buah naga di atas, hanya tiga jenis pertama yang banyak dibudidayakan di Indonesia yaitu H. undatus, H. polythizus, dan H. costaricensis. Hylocereus undatus paling banyak ditanam lantaran jenis ini yang pertama kali masuk ke Indonesia. Berbeda dengan tiga jenis lainnya, jenis Selenicereus megalanthus berkulit kuning, tanpa sisik, dan ada semacam mata bekas duri seperti nanas.
Secara morfologis, tanaman buah naga termasuk tanaman tidak lengkap karena tidak memiliki daun. Untuk beradaptasi dengan lingkungan gurun, tanaman buah naga memiliki duri di sepanjang batang data cabangnya guna mengurangi penguapan.
Tanaman buah naga merupakan tanaman memanjat dan bersifat epifit. Di habitat aslinya, tanaman ini memanjat tanaman lain untuk tumbuh. Meskipun akarnya yang di dalam tanah dicabut, tanaman buah naga masih bisa bertahan hidup karena
terdapat akar yang tumbuh di batang. Akar aerial (akar udara) tersebut mampu menyerap cadangan makanan dari udara.
Berikut ini penjelasan lebih lanjut morfologi tanaman buah naga dari akar, batang dan cabang, bunga, buah, serta biji :
a.    Akar
Buah naga mampu bertahan di daerah kering karena kemampuan akar beradaptasi dengan baik pada kondisi kekeringan (kurang air). Namun, akar tanaman buah naga umumnya tidak tahan terhadap genangan air dalam jangka waktu yang lama. Jika tergenang, akar tanaman buah naga akan membusuk. Selain akar yang terdapat di dalam tanah, tanaman buah naga juga memiliki akar yang tumbuh di batang. Akar tersebut biasa disebut akar aerial (akar udara). Akar ini bersifat epifit yang berfungsi untuk menempel dan merambat pada tanaman lain. Jadi, meskipun akar dicabut data tanah, tanaman tetap bisa hidup dengan cara menyerap makanan dan air dari akar udara yang tumbuh pada batang.

        Perakaran buah naga umumnya dangkal, berkisar 20-30 cm. Namun, menjelang produksi buah, biasanya perakaran bisa mencapai kedalaman 50-60 cm, mengikuti perpanjangan batang berwarna cokelat yang tertanam di dalam tanah. Dengan mengetahui daerah perakaran buah naga maka pemupukan dapat dilakukan sesuai sasaran.
Umumnya, tanaman buah naga menghendaki pH tanah yang normal (pH 6-7). Pada pH tersebut, tanaman akan tumbuh subur dan mampu berproduksi dengan baik. Beberapa literatur menyebutkan bahwa akar tanaman buah naga peka terhadap kemasaman tanah (pH < 5). Apabila pH tanah di bawah 5 (masam), akar tanaman menjadi pendek dan rusak. Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi larnbat dan kerdil. Namun demikian, ternyata buah naga yang ditanam di lahan gambut dengan pH 3,5-5,5 juga mampu berproduksi dengan baik.
b.      Batang dan Cabang
Batang buah naga berwarna hijau kebiru-biruan atau kehitaman. Batang tersebut berbentuk segitiga dan sekulen (banyak mengandung lendir). Pada jenis tertentu, seperti Hylocereus polyrhizus, bila sudah dewasa batang dilapisi oleh lendir. Dari batang tersebut, akan tumbuh cabang yang bentuk dan warnanya sama dengan batang. Cabang tersebut berfungsi sebagai “daun” untuk proses fotosintesis. Fotosintesis berperan untuk menghasilkan fotosiotat (cadangan makanan) yang penting selama pertumbuhan data perkembangan tanaman buah naga. Pada batang dan cabang tanaman, tumbuh dots-dots yang pendek dan keras. Duri tersebut terletak pada tepi sudut batang maupun cabang data terdiri 4-5 buah duri pada setiap titik tumbuh.


c.       Bunga
Sekilas, bunga mirip dengan kulit buah nenas. Seluruh permukaan bunga tertutup oleh mahkota yang bersisik. Bentuknya corong memanjang, berukuran sekitar 30 cm. Kelopak bunga berwarna hijau. Jika kelopak bunga berwarna merah, pertanda bahwa bunga tidak akan menjadi buah. Selang beberapa had, akan terlihat mahkota bunga yang berwarna putih di dalam kelopak bunga tersebut. Bunga akan mekar pada sore had dan akan mekar sempurna pada malam had sekitar pukul 22.00 (night blooming cereus).
 Saat mekar, mahkota bunga bagian dalam berwarna putih bersih. Di dalamnya terdapat benang sari berwarna kuning dan akan mengeluarkan aroma harum. Sementara di bagian tengahnya terdapat tangkai dan kepala putik. Keesokan harinya, setelah terjadi penyerbukan, mahkota bunga akan layu. Hal tersebut menandakan awal dari tahap pembuahan.
d.      Buah
Bentuk buah ada yang bulat dan bulat panjang. Umumnya buah berada di dekat ujung cabang atau pertengahan cabang. Buah bisa tumbuh lebih dari sates pada setiap cabang sehingga terkadang posisi buah saling berdekatan. Kulit buah berwarna merah menyala seat buah matang dengan sirip berwarna hijau, berukuran sekitar 2 cm. Seat matang sempurna, daging buah sangat tebal, berair (inky), dan warna daging buah sangat menawan (tergantung jenisnya). Daging buah dihiasi dengan tebaran biji-biji kecil berwarna hitam pekat. Ketebalan knit buah sekitar 1-4 mm. Rata-rata bobot buah umumnya berkisar 400-800 g/buah, tergantung jenis buah naga yang dibudidayakan.
e.       Biji
Biji buah naga berwarna hitam dengan bentuk bulat kecil, pipih, dan sangat keras. Sekilas, biji buah naga mirip dengan biji wijen. Setiap buah mengandung lebih dari 1.000 biji. Berbeda dengan buah berbiji lainnya, biji buah naga yang kecil itu dapat dimakan bersama dengan daging buahnya.
Biji dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman secara generatif. Namun, cara tersebut jarang dilakukan karena memerlukan waktu yang cukup lama sampai tanaman berproduksi. Hasil buah dari biji pun belum tentu sesuai yang diharapkan karena sifat keturunannya merupakan gabungan dari kedua induknya.
Namun, bagi para pemulia tanaman (breeder), biji merupakan plasma nutfah yang dapat digunakan untuk menghasilkan varietas bar yang lebih baik (unggul).
Cara perbanyakan Buah Naga :
1.      Perbanyakan Generatif.
Perbanyakan tanaman menggunakan biji perlu diperhatikan apakah berasal dari buah yang sehat, tua, dan matang di pohon. Perbanyakan dengan biji memerlukan wakt yang lama sebelum dipindah ke lahan, oleh karenanya metode ini jarang dilakukan petani. Berdasarkan pengalaman, tingkat kebarhasilan penyemaian adalah sekitar 70%. Biji yang telah diperoleh lalu disaring dengan menggunakan saringan teh. Daging buah dibuang dengan cara menekannya pada penyaring sampai tersisa bijinya saja, kemudian biji dibersihkan dengan air mengalir lalu diangin-anginkan sampai terlihat kering.
Media persemaian adalah campuran pasir : topsoil halus : pupuk dari kotoran unggas = 1:1:1 media tersebut kemudian dihaluskan dan disterilisasi lalu di tempatkan di bawah naungan. Jika media telah siap maka biji tanaman buah naga bisa langsung disebar di atas media dan ditutup topsoil tipis kemudian dilakukan penyemprotan  Ridomil. Setelah bibit memiliki panjang 2-3 cm, lalu dipindahkan ke dalam polybag (15 cm x 20 cm) yang berisi media campuran tanah:pasir:pupuk kandang = 1:1:1, tambahkan pupuk NPK 16:16:16 = 5 kg/200 ltr air untuk 10.000 polibag. Untuk mencegah cendawan aplikasikan 15 g Ridomil + 5 cc Atonik dalam 10 liter air / 15 m2. Setelah dua bulan bibit bisa pindahkan ke lahan.
2.      Perbanyakan Vegetatif.
Perbanyakan vegetatif tanaman buah naga merah bisa melalui setek. Stek berasal dari batang atau cabang sehat, tua, dipilih dari tanaman yang telah berbuah 3-4 kali, amil stek tanaman dengan memotongnya sepanjang 20-30 cm dengan gunting setek, kemudian biarkan sampai getah mengering agar batang setek tidak mudah busuk. Lalu celupkan pangkal batang dengan Rootone F untuk mempercepat inisiasi akar.
2.2 Morfologi Tanaman Markisa
Markisa merupakan buah asli dari Amerika Latin. Namun, buah ini sudah banyak dibudidayakan di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Manfaat markisa bagi kesehatan manusia, menjadikannya memiliki nilai komersial yang tinggi. Daun markisa berkhasiat sebagai peluruh air seni dan penyembuh kencing nanah,sedangkan buah penenang.
Jus buah markisa juga merupakan sumber pro-vitamin A, niacin, riboflavin Pulpa buah markisa dapat dijadikan jem, agar-agar, perasa ataupun campuran pada yoghurt dan eskrim  dan vitamin C. Selain itu juga dapat dijadikan untuk minuman sirup, kek, roti dan susu. Kulit buah markisa dapat dijadikan makanan ternak.
Markisa memiliki manfaat yang banyak bagi kesehatan karena mengandung beta karoten, potasium, serat, dan vitamin C. Bahkan, buah ini diyakini bisa meringankan penyakit tekanan darah tinggi.
Klasifikasi tanaman Markisa :
Divisi        : Spermatophyta
Subdivisi  : Angiospermae
Kelas        : Dicotyledoneae
Subkelas  : Dialypetalae
Ordo         : Parietales
Familia     : Passifloraceae
Genus       : Passiflora
Spesies     : Passiflora edulis
Di Indonesia dikenal 4 jenis tanaman Markisa, yaitu:
a. Passiflora quadrangularis dengan daerah markisa atau markusa di Jawa Barat,
    marksa di Jawa Tengah/ Jawa Timur, dan Balewa di Sumatra Utara.
b. Passiflora edulis, Di Jawa Barat dikenal sebagai buah siuh, dan di Sumatera Utara
    sebagai buah markisa
c. Passiflora ligularis, di Jawa Barat namanya buah konyal.
d. Passiflora futida, yang tidak mempunyai arti ekonomi penting. Tanaman ini di Jawa
 Tengah/ Timur namanya “ciplukan” dan di Jawa Barat “keceprek” atau “randa.
            Tanaman markisa berupa semak menjalar. Pada umumnya batang Passifloraceae dapat memanjang hingga lebih dari 5 meter dan mengayu. Letak daunnya berselang-seling. Bunganya sempurna berkelopak 5 helai, tajuk bunganya 5 helai. Berbenang sari 5 batang, berputik 3, bakal buahnya beruang 1, berbiji banyak yang melekat pada 3 bingkai pada dinding buah bagian dalam. Bijinya dibungkus oleh selaput yang berisikan cairan (sari buah) yang rasanya manis, asam manis, hingga asam.
        Batang semu, persegi, lunak, halus, pangkalnya membulat dan permukaan licin, pertulangan daun menyirip. Tangkai bersegi panjang 2-6 cm. Bunga tunggal, bulat, berkelamin 2, terletak diketiak daun, tangkai bergerigi, panjang 3-4 cm, dan berwarna hijau. Benang sari bertangkai, bentuk tabung, panjang kurang lebih 6 cm dan berwarna kuning. Sementara mahkota bunga berbentuk lonjong permukaan beralur, dan berwarna ungu. Buah berbentuk lonjong, panjang kurang lebih 20 cm, diameter kurang lebih 15 cm, dan berwarna hijau keputihan. Biji berbentuk bulat pipih, panjang kurang lebih 0,3 cm, dan berwarna putih. Akar tunggang berwarna putih kotor. Bunga markisa ungu mekar menjelang fajar dan kemudian menutup pada siang hari berikutnya. Bunga markisa kuning membuka siang hari dan menutup sore hari berikutnya. Nektar diproduksi dibagian bawah tangkai sari.
Cara Perbanyakan Tanaman Markisa :
1.   Perbanyakan dengan biji
      Tanaman markisa biasanya tumbuh dari biji. Untuk memperoleh bibit yang baik dari biji, diperlukan buah yang matang dipohon dengan ciri-ciri kulit buah berwarna keungu-unguan atau kira-kira 75 % ungu (jenis Passiflora edulis Sims), berwarna kekuning-kuningan atau kirakira 60 % kuning untuk jenis P. Flavicarva. Buah tersebut dipetik langsung dari pohon kemudian disimpan selama satu atau dua minggu sampai buah berkerikut dan matang sempurna sebelum bijinya dikeluarkan. Bila biji segera disemaikan, maka akan berkecambah selama 2-3 minggu. Bila lendir yang terletak pada biji dibersihkan dan disimpan akan menurunkan daya kecambah.
Persemaian dapat dilakukan pada bak-bak pesemian atau bedengan, tergantung
kebutuhan. Bak semai dapat terbuat dari kayu atau bak plastik. Bedengan dengan lebar 1 m, panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan. Media pesemaian dapat berupa campuran pasir / sekam + pupuk kandang + tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pada media pesemaian dibuat larikan - larikan kecil berjarak + 7-10 cm. Jarak semai di dalam larikan diusahakan tidak terlalu rapat (3-4 cm). Tempat pesemaian diberi naungan untuk melindungi bibit dari sinar matahari dan hujan yang berlebihan. Pada umur 4 minggu setelah semai, bibit dipindahkan kekantong plastik hitam (polybag) berukuran 10 x 15 cm yang berisi media pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 2 : 1. Pada tiap polibag ditanam 1 bibit. Bibit tersebut ditempatkan ditempat teduh dan disiram setiap hari.
2.   Perbanyakan dengan Grafting
     Selain dengan biji, markisa juga dapat diperbanyak dengan cara, grafting (sambung), atau stek. Bagian tanaman yang akan dijadikan stek baiknya diambil dari tanaman yang cukup tua dan berkayu, ruasnya 3-4. Bibit dari stek yang berakar siap ditanam pada umur 90 hari. Pengakaran stek dapat dipercepat dengan perlakuan hormon. Penyambungan memegang peranan penting terutama dalam melestarikan spesiesspesies hibrida dan mengurangi kerusakan karena serangan nematode dan penyakit dengan menggunakan batang baeaw jenis markisa P. flavicarva.


 

III. BAHAN DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Berdasarkan waktu pelaksanaan praktek Praktikum bahwasanya Pengantar Pemuliaan Tanaman ini dilaksanakan pada Hari Sabtu, Tanggal 10 September 2011, pukul 10.00 sampai dengan selesai yang tempatnya dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Pengantar Pemuliaan Tanaman ini adalah :
-        Alat tulis (Pena, buku )
-        Meteran kain
-        Buku panduan Morfologi Tumbuhan
3.3 Cara kerja
Pada praktikum ini cara kerja yang dilakukan pada buah naga hampir sama dengan yang dilakukan pada tanaman markisa, yaitu :
1.      Menyiapkan alat dan bahan yamg akan digunakan pada praktek identifikasi dan koleksi tanaman berupa alat tulis, buku tulis, meteran kain, dan buku panduan morfologi tumbuhan.
2.      Mengamati perbedaan morfologi batang, daun, bunga dan buah antara tanaman buah naga dan tanaman markisa, dengan menggunakan buku panduan dilakukan pengelompokan morfologi masing-masing tanaman.
3.      Pengamatan dilakukan pada tiap 4 pokok tanaman,4 tanaman buah naga dan 4 tanaman markisa.
4.      Menentukan bagian-bagian dari bunga Buah Naga dan Markisa, mana yang merupakan alat reproduksi dan perhiasan bunga, apakah keduanya termasuk bunga lengkap atau bunga tidak lengkap.
5.      Selanjutnya dilakukan pengukuran bagian tanaman, pada buah naga parameternya adalah jumlah kuncup/tanaman, jumlah buah/tanaman, diameter buah dan panjang tunas terpanjang. Sedangkan parameter pengamatan yang dilakukan pada tanaman markisa adalah panjang tunas, lebar daun, panjang daun, jumlah bunga dan diameter buah.
6.      Setelah dilakukan pengukuran,kemudian dilakukan diskusi tentang cara-cara penyerbukan bunga buah naga dan bunga markisa.
7.      Diskusi yang dilakukan menyangkut masalah kenapa buah naga berbuah kecil, kapan seharusnya dilakukan penyerbukan, dan apa perbedaan dari kedua koleksi tanaman tersebut, baik dari segi morfologi bunga,buah dan penyerbukan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari praktikum Identifikasi dan Koleksi Tanaman yang telah dilakukan, didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :
a.       Hasil data pengamatan tanaman Buah Naga :
No
Parameter Pengamatan
Tan. 1
Tan. 2
Tan. 3
Tan. 4
1.
Jumlah Kuncup bunga
1
1
1
-
2.
Jumlah buah
4
4
2
5
3.
Diameter buah (cm)
12,3
10,5
11,6
10,8
4.
Panjang tunas terpanjang (cm)
145
247
118
153
b.      Hasil data pengamatan tanaman Markisa :
No.
Parameter Pengamatan
Tan. 1
Tan. 2
Tan. 3
Tan. 4
1.
Panjang tunas (cm)
57
75
53,2
46,5
2.
Lebar daun (cm)
14
19,6
16
12,7
3.
Panjang daun (cm)
11
15,5
13,4
13,8
4.
Jumlah bunga
15
23
14
18
5.
Diameter buah (cm)
11
11,6
12,3
11,7



c.       Gambar bunga buah naga serta bagiannya :

Mahkota(corolla)     Kelopak bunga                                  Benang sari           Putik
d.      Gambar bagian bunga Markisa :




4.2 Pembahasan
Bunga sebagai organ reproduksi memiliki dua bagian penting untuk proses perkembangbiakan yaitu benag sari dan putik, meskipun demikian bunga dapat memiliki beberapa bagian lain yang memiliki fungsi khusus. Berdasarkan strukturnya bunga terbagi menjadi dua yaitu:
  1. Bunga lengkap
  2. Bunga tidak lengkap
Pembagian bunga berdasarkan struktur didasarkan kelengkapan bagian bunga yang dimiliki. Bunga lengkap memiliki empat bagian utama yaitu:
  1. Kelopak (calyx)
  2. Tajuk atau mahkota (corolla)
  3. Benang sari (stamen)
  4. Putik (pistillum)
Benang sari dan putik merupakan komponen utama dalam penyerbukan dalam bunga. Benang sari dan putik itu sendiri terdapat dalam bunga sehingga dapat dikatakan bahwa bunga merupakan alat perkembangbiakan generatif bagi tanaman (Sunarto, 1997). Oleh karena itu bunga dapat dibagi berdasarkan kelengkapan alat kelaminnya menjadi:
  1. Bunga sempurna
  2. Bunga tidak sempurna
Bunga sempurna merupakan bunga yang memiliki benang sari dan puti, sebaliknya pada bunga tidak sempurna.  Benang sari setiap tanaman memiliki jumlah dan ukuran tersendiri pada tiap spesies tanaman.
Proses penyerbukan dalam tanaman dapat dibagi menjadi dua yaitu penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang. Penyerbukan sendiri (self pollination) terjadi apabila perpindahan tersebut terjadi pada satu bunga atau bunga lain pada satu tanaman. Sedangkan penyerbukan silang (cross pollination) terjadi bila serbuk sari berasal dari bunga tanamn lain.
Beberapa bunga memiliki ciri morfologi khusus pada tiap spesiesnya yang mengakibatkan perbedaan proses penyerbukan. Secara umum proses penyerbukan pada tanaman dipengaruhi oleh beberapa proses sebagai berikut:
  1. Penyerbukan tertutup atau kleistogami (cleistogamie) yaitu proses penyerbukan bunga yang terjadi ketika bunga masih kuncup. Proses penyerbukan biasanya berupa autogamie.
  2. Penyerbukan terbuka atau kasmogami (chasmogamie) yaitu proses penyerbukan bunga yang terjadi ketika bunga telah mekar. Proses penyerbukan ini dapat meyebabkan tanaman melakukan autogamie, geitonogamie, allogamie, dan xenogamie.
  3. Diogamie (dichogamie) merupakan proses masaknya putik dan serbuk sari secara tidak bersamaan.
  4. Herkogami (herkogamie) bunga dimana letak kepala sari dan putik saling berjauhan sehingga sulit mengalami penyerbukan sendiri
  5. Heterostili (heterostylie) merupakan bunga yang memiliki panjang putik dan benang sari berbeda-beda.
  6. Anemofili (anemophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh angin.
  7. Entomofili (enthomophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh serangga.
  8. Ornitofili (ornithophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh burung.
  9. Kiropterofili (chiropterophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh kelelawar.
Morfologi pada tanaman menyerbuk silang :
1.      Herkogami (letak kepala sari dan putik saling berjauhan sehingga sulit mengalami penyerbukan sendiri).
2.      Heterostili (panjang putik dan benang sari berbeda-beda)
pada tanaman menyerbuk sendiri :
1.      Bunga tidak membuka sebelum terjadi penyerbukan.
2.      Butir tepung sari luruh sebelum membuka.
3.      Benangsari dan putik ditutup oleh bagian bunga sesudah bunga membuka.
4.      Putik memanjang segera setelah tepungsari masak, sehingga tidak terserbuki.



V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diambil beberapa kesimpulan dari morfologi bunga Markisa dan buah naga, yaitu :
1.      Bunga dapat dibedakan berdasarkan ciri morfologinya.
2.      Berdasarkan kelengkapan bagian bunga dapat diklasifikasikan atas dua macam yaitu bunga lengkap dan bunga tak lengkap.
3.      Bunga Markisa dan bunga buah buah naga termasuk bunga sempurna, karena memiliki 2 alat reproduksi ( Benang sari dan Putik ).
4.      Bunga markisa dan bunga buah naga termasuk bunga sempurna, karena memiliki 4 bagian bunga lengkap ( Kelopak, mahkota, benang sari, putik ).
5.      Pada bunga buah naga letak putik lebih tinggi daripada benang sari, sehingga kecil kemungkinan akan terjadi penyerbukan secara utuh, oleh karena itu bunga buah naga membutuhkan bantuan manusia dalam penyerbukannya, yaitu dilakukan pada pukul 20.00-05.00.
6.      Penyerbukan bunga buah naga yang dibantu oleh manusia akan mempengaruhi ukuran buah naga, ini berkaitan dengan seberapa banyak serbuk sari yang masuk ke dalam putik.
7.      Tanaman berbunga sempurna dapat dikateforikan bunga lengkap namun bunga tidak lengkap belumtentu bunga tidak sempurna maupun bunga sempurna.
8.      Setiap tanaman berbeda variasi jumlah serbuk sarinya.

5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum yang akan datang dilakukan identifikasi dan koleksi tanaman yang lebih beragam, agar lebih diketahui bentuk-bentuk penyerbukan dari tanaman yang berbeda.



DAFTAR PUSTAKA

Tjitrosoepomo, G. 2007. Taksonomi Tumbuhan ( Spermatophyta ). Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Ashari, Sumeru. 2006. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta : UI Press
Daryanto dan Siti Satifah. 1984. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga Dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia: Jakarta.
Hermani dan Mono. R. 2006. Tanaman Berkhasiat Anti Oksidan. Penebar swadaya:   Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar